Dampak perang tarif yang terjadi akibat kebijakan proteksionis dari Amerika Serikat, Eropa, dan negara lainnya telah memaksa industri otomotif China untuk mengalihkan fokus mereka. Kini, China semakin mengandalkan pasar Rusia dan Timur Tengah untuk mengurangi dampak tersebut dan melindungi ekspansi global mereka.
Meskipun menghadapi badai tarif global, China tetap menjadi raksasa industri otomotif, memimpin penjualan kendaraan di pasar domestiknya sambil terus memperluas ekspor ke seluruh dunia. Penelitian terbaru dari Axios, yang baru saja dirilis, menunjukkan bagaimana kuatnya posisi industri otomotif China saat ini.
Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa ekspor kendaraan China melonjak 23% pada 2024, dengan total 6,4 juta kendaraan penumpang, mengungguli Jepang yang berada di posisi kedua. Dampak perang tarif yang dikenakan oleh negara-negara besar telah mengubah arah ekspor China, dengan Rusia dan Timur Tengah menyumbang 35% dari total ekspor kendaraan China pada 2024. Angka ini bahkan melampaui pengiriman kendaraan ke Eropa dan Amerika Utara untuk pertama kalinya.
Andrew Bergbaum, pemimpin global Praktik Otomotif di AlixPartners, mengatakan, “Penjualan mobil China ke Rusia dan Belarusia telah lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, yang sebagian besar membantu melindungi China dari volatilitas tarif yang melanda pasar-pasar besar seperti AS dan Eropa.”

Namun, meskipun pasar Rusia dan Timur Tengah semakin penting, dampak perang tarif tetap dirasakan oleh industri otomotif China. Tarif yang dikenakan oleh AS dan negara lainnya diperkirakan akan meningkatkan biaya kendaraan dan komponen otomotif yang diekspor dari China sekitar 24%, atau sekitar $46 miliar, berdasarkan data ekspor 2024. Sebagian besar biaya tambahan ini berasal dari tarif AS.
Walaupun begitu, dampak perang tarif ini hanya mempengaruhi sebagian kecil dari total output otomotif China. Selain itu, pertumbuhan ekspor China diperkirakan akan melambat menjadi 4% pada 2025, seiring dengan dampak tarif yang semakin terasa.
Namun, meskipun ada tantangan, pasar domestik China diperkirakan akan terus berkembang. Penjualan kendaraan di dalam negeri diproyeksikan akan naik 4% pada 2025, mencapai 26,8 juta kendaraan, didorong oleh peningkatan permintaan untuk kendaraan listrik dan hibrida serta teknologi pengemudian asistif.
Dengan langkah ini, China terus memperkuat posisinya di pasar otomotif global, meskipun menghadapi berbagai tantangan dari dampak perang tarif yang mempengaruhi banyak negara lain, termasuk AS. Kini, fokus mereka beralih ke Rusia dan Timur Tengah sebagai pasar utama yang semakin penting dalam menjaga laju pertumbuhan industri otomotif mereka.




